Tampilkan postingan dengan label sejarah sepak bola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah sepak bola. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Februari 2013

Sejarah Berdirinya Persija Jakarta

SEJARAH BERDIRINYA PERSIJA JAKARTA

Persija berdiri sebulan setelah lahirnya Sumpah Pemuda, tanggal 28 November 1928. Ketika itu perkumpulan     pemuda Jakarta sepakat untuk membentuk Voetballbond Indonesische Jacatra (VIJ), kenapa pakai Jacatra? karena rasa nasionalisme pemuda Jakarta tumbuh begitu tinggi, jadi mereka meninggalkan kata-kata Batavia sebagai nama  perkumpulan Sepakbola. Lagipula VIJ lahir juga sebagai perlawanan Voetballbond Batavia Omstraken (VBO), perkumpulan sepakbola Batavia dari kalangan Belanda.

VIJ adalah perkumpulan sepakbola yang murni diisi oleh orang-orang Pribumi. Rasa nasionalisme para pemuda ini tidak terbendung lagi, sehingga VIJ pun diberi identitas ‘Merah dan Putih’ sebagai wujud Indonesia secara kecil. VIJ juga tercatat sebagai perkumpulan sepakbola yang ikut membidani lahirnya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Mr. Soekardi sebagai perwakilan VIJ dan Iskandar Brata sebagai Ketua Umum pertama VIJ.
 Kompetisi PSSI pertama tahun 1931, VIJ berhasil keluar sebagai juara setelah berhasil mengalahkan VVB (Solo) dan PSIM (Jogjakarta). Setahun berselang, VIJ gagal menjadi juara. Baru pada tahun 1933, 1934 dan 1938 VIJ keluar sebagai juara.
 Pada era kependudukan Jepang, sepakbola Indonesia vakum alias tidak ada kegiatan. Kompetisi baru dimulai kembali pada tahun 1951. VIJ pada tahun 1950 merubah namanya menjadi nama Indonesia, yaitu Persatuan Sepakbola Indonesia Jakarta atau yang kita kenal dengan PERSIJA. Pada tahun ini pula beberapa klub VBO yang banyak berisikan pemuda pribumi mulai bergabung ke Perkumpulan Persija, yang pertama bergabung adalah Bangka Belitong Sport Association alias BBSA, lalu diikuti Cung Hwa (PS Tunas Jaya), UMS, Maesa, Hercules dll.
 Dengan limpahan pemain-pemain dari VBO, Persija tidak kesulitan menemukan pemain-pemain hebat, rata-rata pemain Persija diambil dari UMS dan Cung Hwa yang pada kompetisi VBO sangat menguasai Kompetisi VBO tersebut.
 Beberapa pemain top Persija saat itu seperti Van der Vin, Hong Sing, Him Tjiang, Kwee Tek Liong dan Djamiaat Dalhar berasal dari UMS, lalu Tan Liong Houw dari Cung Hwa (Tunas Jaya) atau Van der Berg dari BBSA berhasil mencuri perhatian masyarakat Jakarta yang saat itu deman sepakbola. Persija akhirnya keluar sebagai juara pada tahun 1954 setelah mengalahkan PSMS dengan skor 2-1.
Sepuluh tahun berselang Persija kembali merajai Kompetisi PSSI 1964. Juara Tahun ini sungguh istimewa, karena saat itu Persija tidak terkalahkan dengan pemain-pemain muda yang diambil dari Kompetisi Persija. Tangan dingin pelatih legendaris Persija, drg Endang Witarsa berhasil membawa anak-anak muda ini berpesta di Senayan, setelah pada pertandingan penetuan berhasil menghancurkan Persebaya Surabaya.
Dari tangan dingin drg. Endang Witarsa pula lahir generasi hebat Persija seperti Soetjipto Soentoro, Yudo Hadiyanto, Fam Tek Fong, Kiat Seek, Dominggus, Supardi, Didik Kasmara, Surya Lesmana dll. Tentu penemuan Soetjipto Soentoro, adalah paling fenomenal. Ditemukan di pinggiran Gandaria, Kebayoran Lama, Jakarta, pemain ini menjadi maskot Persija saat itu. Gareng adalah sapaan akrab Soetjipto, bahkan Gareng pun memulai debut bersama Persija pada usia 16 Tahun.
Usai gagal mempertahankan gelar juara pada Kompetisi tahun 1965, yang jatuh ke Persib, Persija baru bisa meraih kembali gelar juara sembilan tahun kemudian di tahun 1973. Era 70an bisa dibilang adalah eranya Persija, setelah berhasil menguasai Kompetisi Piala Suratin U-18, pemain-pemain jebolannya kemudian berhasil mempersembahkan gelar juara untuk Persija senior.
Era ini pula pemain-pemain Persija berteknik sepakbola modern. Risdianto, Iswadi Idris, Anjas Asmara, Sutan Harharah, I’im Ibrahim, Oyong Liza, Sumirta, Yudo Hadiyanto dkk. bahkan bukan saja andalan di Persija tapi juga di Timnas Indonesia kala itu. Di Era ini penonton sepakbola Indonesia selalu disuguhkan permainan berteknik tinggi dari Persija. Maka tak heran Persija berhasil meraih gelar juara pada tahun 1973, 1975 dan 1979. Persija hanya gagal juara pada era ini pada tahun 1971 dan 1977.
Setelah Era 70an, Persija mengalami reformasi pemain pada tahun era 80an. Dengan tidak menghilangkan ciri khasnya, yaitu permainan skill tinggi, tim yang identik dengan warna Merah ini sedikit menurun pada era ini. Setelah gelar juara tahun 1979, Persija dengan berani menurukan pemain-pemain mudanya termasuk salah satunya adala Reva Deddy Utama.
Persija bahkan hampir terdegradasi pada tahun 1985. Persija terselamatkan oleh gelaran 4 Kecil yang diadakan PSSI untuk menentukan siapa yang degradasi ke Divisi I PSSI dan siapa yang promosi ke Divisi Utama PSSI. Hampir degradasi membuat Ketua Umum Persija saat itu, ir Todung Barita Lumbanraja berniat membuat Sekolah Sepakbola Persija sebagai sarana pencarian bibit muda untuk Persija.
Setelah tahun 1985, Persija perlahan mulai bangkit dan kembali mengacak-acak arena Divisi Utama PSSI. Di Era ini-lah perseteruan baru dengan Persib Bandung meruncing sangat tajam. Persija yang saat itu banyak diisi pemain-pemain jebolan PSSI Timnas Garuda seperti Tony Tanamal, Patar Tambunan dan Agus Waluyo mulai mengusik dominasi Persib di era 80an. Harus diakui bahwa era 80an adalah eranya Persib, maka saat Persija yang mulai bangkit kembali, menjadi ancaman serius Persib.

sejarah berdirinya PSG


Pertama kali berdiri pada tahun 1904, klub ini bernama Stade Saint Germain. Baru pada Agustus 1970 klub berubah nama menjadi Paris Saint Germain, setelah Paris FC dan Stade Saint Germain memutuskan untuk melakukan merger. Tahun pertama PSG di kompetisi sepakbola Prancis dimulai di kompetisi divisi dua. Baru di tahun kedua mereka naik tahta ke divisi satu/utama, meski akhirnya kembali terdegradasi di akhir musim. Setelah mengalami segudang masalah, PSG akhirnya memulai era keemasannya di tangan Francois Borelli, di mana dia menjabat sebagai chairman. Dua gelar Piala Prancis dan satu titel Ligue 1 berhasil disabet tim di bawah kepemimpinannya.

Sejak itu, PSG belum pernah lagi mencapai puncak kejayaan mereka. Banyak skandal di alami dan klub juga kerap terlilit utang. Meski demikian, PSG masih bisa melanjutkan performa mereka untuk bertahan di divisi utama hingga saat ini. Paris Saint Germain memiliki beberapa prestasi di kompetisi domestik, antara lain, 2 kali juara Ligue 1 (1986, 1994), 8 kali juara Piala Prancis (1982, 1983, 1993, 1995, 1998, 2004, 2006, 2010), 3 kali Piala Liga (1995, 1998, 2008), dan 2 kali juara Piala Super Prancis (1995, 1998). Sedangkan di kancah eropa, PSG pernah meraih 1 kali juara Piala Winners (1996), serta 1 kali juara Piala Intertoto (2001).

sejarah berdirinya pssi


 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9_RvaV0xbGFO95X2LTe0vfayVzP8QNdnvIG1sv03tlMEObtW4gKSJnLwdWddveUNBFybM8-CwQQ_i2-sTQtL0Sl8UMilu__59JAkzFVTNnZSwKoLgrw23QrGvq-47JAMAzlvlNCJL02Q/s280/logo-pssi.gif

PSSI dibentuk pada tanggal 19 April 1930 di Yogyakarta dengan nama Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia. Sebagai organisasi olahraga yang lahir pada masa penjajahan Belanda, kelahiran PSSI ada kaitannya dengan upaya politik untuk menentang penjajahan.

Apabila mau meneliti dan menganalisa lebih lanjut saat-saat sebelum, selama, dan sesudah kelahirannya hingga 5 tahun pasca proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, terlihat jelas bahwa PSSI lahir dibidani oleh muatan politis, baik secara langsung maupun tidak, untuk menentang penjajahan dengan strategi menyemai benih-benih nasionalisme di dada pemuda-pemuda Indonesia yang ikut bergabung.

PSSI didirikan oleh seorang insinyur sipil bernama Soeratin Sosrosoegondo. Ia menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman, pada tahun 1927 dan kembali ke tanah air pada tahun 1928. Ketika kembali, Soeratin bekerja pada sebuah perusahaan bangunan Belanda, Sizten en Lausada, yang berkantor pusat di Yogyakarta. Di sana beliau merupakan satu-satunya orang Indonesia yang duduk sejajar dengan komisaris perusahaan konstruksi besar itu. Akan tetapi, didorong oleh semangat nasionalisme yang tinggi, beliau kemudian memutuskan untuk mundur dari perusahaan tersebut.

Setelah berhenti dari Sizten en Lausada, Soeratin lebih banyak aktif di bidang pergerakan. Sebagai seorang pemuda yang gemar bermain sepak bola, beliau menyadari kepentingan pelaksanaan butir-butir keputusan yang telah disepakati bersama dalam pertemuan para pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda). Soeratin melihat sepak bola sebagai wadah terbaik untuk menyemai nasionalisme di kalangan pemuda sebagai sarana untuk menentang Belanda.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Soeratin rajin mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh sepak bola di Solo, Yogyakarta, dan Bandung. Pertemuan dilakukan dengan kontak pribadi secara diam-diam untuk menghindari sergapan Polisi Belanda (PID). Kemudian, ketika mengadakan pertemuan di hotel kecil Binnenhof di Jalan Kramat 17, Jakarta, Soeri, ketua VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta), dan juga pengurus lainnya, dimatangkanlah gagasan perlunya dibentuk sebuah organisasi sepak bola nasional. Selanjutnya, pematangan gagasan tersebut dilakukan kembali di Bandung, Yogyakarta, dan Solo yang dilakukan dengan beberapa tokoh pergerakan nasional, seperti Daslam Hadiwasito, Amir Notopratomo, A. Hamid, dan Soekarno (bukan Bung Karno). Sementara itu, untuk kota-kota lainnya, pematangan dilakukan dengan cara kontak pribadi atau melalui kurir, seperti dengan Soediro yang menjadi Ketua Asosiasi Muda Magelang.

Kemudian pada tanggal 19 April 1930, berkumpullah wakil dari VIJ (Sjamsoedin, mahasiswa RHS), BIVB - Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (Gatot), PSM - Persatuan sepak bola Mataram Yogyakarta (Daslam Hadiwasito, A. Hamid, dan M. Amir Notopratomo), VVB - Vortenlandsche Voetbal Bond Solo (Soekarno), MVB - Madioensche Voetbal Bond (Kartodarmoedjo), IVBM - Indonesische Voetbal Bond Magelang (E.A. Mangindaan), dan SIVB - Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (Pamoedji).

Dari pertemuan tersebut, diambillah keputusan untuk mendirikan PSSI, singkatan dari Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia. Nama PSSI lalu diubah dalam kongres PSSI di Solo pada tahun 1930 menjadi Persatuan sepak bola Seluruh Indonesia sekaligus menetapkan Ir. Soeratin sebagai ketua umumnya.

Sumber:http://jelajahunik.blogspot.com/2011/06/sejarah-berdirinya-pssi-persatuan-sepak.html

sejarah berdirinya real madrid fc


Berdiri: 1902
Alamat: C/ Concha Espina, 1 Spain
Telpon: (+34) 91 398 43 00 -
Ketua: Florentino Pérez
Direktur: Miguel Pardeza
Stadion: Santiago Bernabeu
Sejarah

Minggu, 06 Januari 2013

Sejarah Berdirinya Arema

Nama Arema pada masa Kerajaan

Nama Arema adalah legenda Malang. Adalah Kidung Harsawijaya yang pertama kali mencatat nama tersebut, yaitu kisah tentang Patih Kebo Arema di kala Singosari diperintah Raja Kertanegara. Prestasi Kebo Arema gilang gemilang. Ia mematahkan pemberontakan Kelana Bhayangkara seperti ditulis dalam Kidung Panji Wijayakrama hingga seluruh pemberontak hancur seperti daun dimakan ulat. Demikian pula pemberontakan Cayaraja seperti ditulis kitab Negarakretagama. Kebo Arema pula yang menjadi penyangga politik ekspansif Kertanegara. Bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi. Kemudian bisa menguasai Selat Malaka. Sejarah heroik Kebo Arema memang tenggelam. Buku-buku sejarah hanya mencatat Kertanegara sebagai raja terbesar Singosari, yang pusat pemerintahannya dekat Kota Malang.

Nama Arema di dekade '80-an

Sampai akhirnya pada dekade 1980-an muncul kembali nama Arema. Tidak tahu persis, apakah nama itu menapak tilas dari kebesaran Kebo Arema. Yang pasti, Arema merupakan penunjuk sebuah komunitas asal Malang. Arema adalah akronim dari Arek Malang. Arema kemudian menjelma menjadi semacam "subkultur" dengan identitas, simbol dan karakter bagi masyarakat Malang. Diyakini, Arek Malang membangun reputasi dan eksistensinya di antaranya melalui musik rock dan olahraga. Selain tinju, sepak bola adalah olahraga yang menjadi jalan bagi arek malang menunjukkan reputasinya. Sehingga kelahiran tim sepak bola Arema adalah sebuah keniscayaan.

Awal mula berdirinya PS Arema

(Arema Football Club/Persatuan Sepak Bola Arema nama resminya) lahir pada tanggal 11 Agustus 1987, dengan semangat mengembangkan persepak bolaan di Malang. Pada masa itu, tim asal Malang lainnya Persema Malang bagai sebuah magnet bagi arek Malang. Stadion Gajayana –home base klub pemerintah itu– selalu disesaki penonton. Dimana posisi Arema waktu itu? Yang pasti, klub itu belum mengejawantah sebagai sebuah komunitas sepak bola. Ia masih jadi sebuah “utopia”.
Adalah Acub Zaenal mantan Gubernur Irian Jaya ke-3 dan mantan pengurus PSSI periode 80-an yang kali pertama punya andil menelurkan pemikiran membentuk klub Galatama di kota Malang setelah sebelumnya membangun klub Perkesa 78. Jasa “Sang Jenderal” tidak terlepas dari peran Ovan Tobing, humas Persema saat itu. “Saya masih ingat, waktu itu Pak Acub Zainal saya undang ke Stadion Gajayana ketika Persema lawan Perseden Denpasar,” ujar Ovan. Melihat penonon membludak, Acub yang kala itu menjadi Administratur Galatama lantas mencetuskan keinginan mendirikan klub galatama. “You bikin saja (klub) Galatama di Malang,” kata Ovan menirukan ucapan Acub.
Beberapa hari setelah itu, Ir Lucky Acub Zaenal –putra Mayjen TNI (purn) Acub Zaenal– mendatangi Ovan di rumahnya, Jl. Gajahmada 15. Ia diantar Dice Dirgantara yang sebelumnya sudah kenal dengan dirinya. “Waktu itu Lucky masih suka tinju dan otomotif,” katanya. Dari pembicaraan itu, Ovan menegaskan kalau dirinya tidak punya dana untuk membentuk klub galatama. “Saya hanya punya pemain,” ujarnya. Maka dipertemukanlah Lucky dengan Dirk “Derek” Sutrisno (Alm), pendiri klub Armada ‘86.
Berkat hubungan baik antara Dirk dengan wartawan olahraga di Malang, khususnya sepakbola, maka SIWO PWI Malang mengadakan seminar sehari untuk melihat "sudah saatnyakah Kota Malang memiliki klub Galatama?" Drs. Heruyogi sebagai Ketua SIWO dan Drs. Bambang Bes (Sekretaris SIWO) menggelar seminar itu di Balai Wartawan Jl. Raya Langsep Kota Malang. Temanya "Klub Galatama dan Kota Malang", dengan nara sumber al; Bp. Acub Zainal (Administratur Galatama), dari Pengda PSSI Jatim, Komda PSSI Kota Malang, Dr. Ubud Salim, MA. Acara itu dibuka Bp Walikota Tom Uripan (Alm). Hasil atau rekomendasi yang didapatkan dari seminar: Kota Malang dinilai sudah layak memiliki sebuah klub Galatana yang professional.

Harus diakui, awal berdirinya Arema tidak lepas dari peran besar Derek dengan Armada 86-nya. Nama Arema awalnya adalah Aremada-gabungan dari Armada dan Arema. Namun nama itu tidak bisa langgeng. Beberapa bulan kemudian diganti menjadi Arema`86. Sayang, upaya Derek untuk mempertahankan klub Galatama Arema`86 banyak mengalami hambatan, bahkan tim yang diharapkan mampu berkiprah di kancah Galatama VIII itu mulai terseok-seok karena dihimpit kesulitan dana.
Dari sinilah, Acub Zaenal dan Lucky lantas mengambil alih dan berusaha menyelamatkan Arema`86 supaya tetap survive. Setelah diambil alih, nama Arema`86 akhirnya diubah menjadi Arema dan ditetapkan pula berdirinya Arema Galatama pada 11 Agustus 1987 sesuai dengan akte notaris Pramu Haryono SH–almarhum–No 58. “Penetapan tanggal 11 Agustus 1987 itu, seperti air mengalir begitu saja, tidak berdasar penetapan (pilihan) secara khusus,” ujar Ovan mengisahkan.
Hanya saja, kata Ovan, dari pendirian bulan Agustus itulah kemudian simbol Singo (Singa) muncul. "Agustus itu kan Leo atau Singo (sesuai dengan horoscop),"imbuh Ovan. Dari sinilah kemudian, Lucky dan, Ovan mulai mengotak-atik segala persiapan untuk mewujudkan obsesi berdirinya klub Galatama kebanggaan Malang.